Kunjungan di Destinasi Wisata Siak Masih Dibatasi, PAD Terancam Merosot

Siak574 Dilihat

SIAK (WARTASIAK.COM) – Pasca insiden robohnya lantai II bangunan Tangsi Belanda yang melukai belasan siswa beberapa waktu lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak langsung menutup dan membatasi kunjungan pada sejumlah objek wisata (destinasi, red) yang ada di Kabupaten Siak. Penutupan dan pembatasan tersebut dilakukan agar tidak terjadi musibah serupa yang dapat mengancam keselamatan para pengunjung.

Jelang tibanya hari raya Idul Fitri 1447 H ini, Pemkab Siak melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) akan melakukan kajian bersama tim cagar budaya guna memastikan kapasitas pada sejumlah destinasi wisata yang ada di Siak, termasuk Istana, Balai Kerapatan, dan Tangsi Belanda.

“Karena kemarin terjadi insiden di Tangsi Belanda, maka untuk sementara waktu Tangsi Belanda ditutup tidak bisa dikunjungi oleh wisatawan. Untuk bisa membuka kembali objek wisata Tangsi Belanda itu, kami perlu mendiskusikannya bersama tim ahli cagar budaya,” jelas Kepala Disbudparpora Siak H Syafrizal S.Sos, M.Si, Sabtu (28/02/2026) siang, kepada Wartasiak.com.

Destinasi wisata di Kabupaten Siak yang ramai dikunjungi pada moment hari raya dan hari libur adalah Istana Asserayah Al Hasyimiyah yang berada tepat di jantung Kota Siak Sri Indrapura.

Salain itu, pada hari-hari tertentu Tangsi Belanda dan Balai Kerapatan Tinggi juga kerap menjadi objek/tujuan para wisatawan yang datang ke Kota Siak. Dengan demikian, Pemkab mesti bisa memastikan kondisi dan kapasitas destinasi wisata yang ada agar tidak membahayakan saat dikunjungi.

“Sekarang Istana Siak dan Balai Kerapatan Tinggi masih tetap dibuka, namun para pengunjung hanya diperkenankan masuk di lantai bawah saja, sedangkan untuk lantai atas jumlah orang yang boleh naik dibatasi,” lanjut H Syafrizal.

Selama ini keberadaan sejumlah destinasi wisata di Siak telah membantu pemasukan keuangan daerah melalui pungutan/retribusi yang didapat dari penjualan tiket dan parkir kendaraan. Besar kecilnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor kepariwisataan itu bergantung pada banyaknya jumlah pengunjung/wisatawan yang datang ke Kota Siak.

Jika pada hari raya Idul Fitri 1447 H ini Pemkab Siak masih melakukan penutupan terhadap destinasi wisata Tangsi Belanda, maka sudah dapat dipastikan masukan PAD dari sektor kepariwisataan akan mengalami penurunan.

“Khusus untuk Tangsi Belanda, kita akan segera membicarakannya dengan tim ahli cagar budaya. Nanti di situ baru bisa diputuskan apakah bisa kembali dibuka atau tidak pada hari raya Idul Fitri. Kalaupun bisa kembali dibuka, kemungkinan hanya lantai bawah saja yang boleh dimasuki pengunjung,” tutup H Syafrizal.

Sebagaimana diketahui, bangunan cagar budaya yang menjadi ikon wisata favorit di Kota Siak di antaranya adalah Istana Siak, Balai Kerapatan, Masjid Raya Syahabuddin, dan Tangsi Belanda.

Namun saat ini kondisi sejumlah bangunan cagar budaya yang ada di Siak itu sudah mulai menimbulkan kekhawatiran saat dikunjungi, hal itu disebabkan karena minimnya perawatan yang sejak beberapa tahun belakangan tidak dilakukan oleh Pemkab Siak.

Dengan kondisi demikian, publik berharap Pemkab Siak bisa segera mengambil langkah-langkah mencarikan anggaran untuk pembiayaan perbaikan/perawatan terhadap seluruh cagar budaya yang ada. Jangan sampai bangunan-bangunan peninggalan bersejarah itu mengalami nasib yang sama seperti yang terjadi di Tangsi Belanda beberapa waktu lalu.

Laporan: Atok



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *