Masuki Hari ke-270 Memimpin Siak, Kinerja Afni-Syamsurizal Masih Jauh dari Harapan

Siak3006 Dilihat

SIAK (WARTASIAK.COM) – Pasangan bupati dan wakil bupati (Wabup) Siak Afni-Syamsurizal resmi dilantik pada Hari Rabu tanggal 4 Juni 2025 lalu. Terhitung hingga hari ini (1 Maret 2026) keduanya sudah menjabat dan menjalankan tugas sebagai kepala daerah Kabupaten Siak selama 270 hari.

Saat dilantik, pasangan Afni-Syamsurizal diambil sumpah jabatannya di bawah kitab suci Alquran yang disaksikan oleh masyarakat, pejabat, dan tuhan yang maha esa. Di bawah kitab suci Alquran itu keduanya bersumpah/berikrar akan menjalankan tugas kepemimpinan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat.

Problem utama yang saat ini dihadapi oleh pasangan bupati Afni-Syamsurizal adalah soal keuangan daerah yang masih amburadul. Masalah utang tunda bayar/salur 2024 dan 2025 masih menjadi PR terbesar. Bahkan dampak dari kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh kalangan ASN saja, melainkan juga bagi para kontraktor, pedagang, hingga perangkat kampung.

Utang tunda bayar yang menjadi PR besar Afni-Syamsurizal itu merupakan bagian dari kebijakan belanja/pengeluaran di masa kepemimpinan bupati sebelumnya. Meski demikian, utang yang menjadi tanggungjawab Pemkab Siak itu mesti diselesaikan oleh kepala daerah berikutnya sebagai wujud kepedulian terhadap rakyat.

Buruknya kondisi keuangan daerah di masa kepemimpinan Afni-Syamsurizal ini berpotensi akan berimbas pada semakin minimnya program pembangunan yang direalisasikan oleh Pemkab Siak, baik di sektor pendidikan, kesehatan, kepariwisataan, hingga infrastruktur jalan yang menjadi idaman seluruh lapisan masyarakat.

Di awal-awal memimpin Siak, Bupati Afni Z terlihat cukup getol menyuarakan pembebasan lahan yang terindikasi bermasalah (sengketa, red) antara masyarakat dengan perusahaan. Namun sejauh ini belum terdengar di telinga publik hasil yang telah dicapai dari upaya-upaya tersebut. Apakah lahan-lahan sengketa di Siak telah menemui titik terang?.

Selain soal lahan, beberapa pekan lalu Bupati Afni dikabarkan menemui wakil menteri di Jakarta guna mempertanyakan hak daerah (dana bagi hasil, red) yang masih tersandera di Kementerian Pusat. Tak tanggung-tanggung, duit daaerah yang masih mengendap di pusat itu nilainya mencapai lebih dari Rp500 miliar. Lantas apakah hak daerah tersebut sudah berhasil direbut dan diberikan untuk Siak?.

Problem menarik lainnya yang hari ini menjadi perbincangan publik adalah soal pengisian jabatan kosong baik di BUMD maupun di instansi pemerintah yang tak kunjung dilakukan. Hal itu mengisyaratkan seolah kinerja kepala daerah terkesan lamban dalam menyikapi persoalan tersebut.

Bicara soal jabatan kosong, tidak sedikit OPD di lingkungan Pemkab Siak yang hari ini mengalami kekosongan jabatan, baik di level eselon II (Kadis/Kaban) maupun di level eselon III. Serta adanya kekosongan jabatan pimpinan direksi pada beberapa BUMD Siak termasuk PT BSP.

Dalam menunjukkan kualitas dan efektivitas kinerja, seorang kepala daerah tidak cukup hanya memamerkan aksi blusukan ke kampung-kampung saja tanpa adanya bukti nyata yang berdampak pada kemajuan dan peningkatan di wilayah yang diblusuki/didatangi.

Bagi masyarakat awam, blusukan seorang kepala daerah ke kampung-kampung mungkin akan dianggap sebagai prestasi dan reputasi yang luar biasa. Namun bagi kalangan intelektual lainnya, sebuah capaian terbaik dari seorang pemimpin bukanlah dilihat dari aksi blusukannya saja, melainkan juga dilihat dari sejauh mana realisasi program yang telah dibuat di tengah masyarakat.

Saat kampanya Pilkada Siak 2024 lalu, Bupati Afni bersama pasangannya Syamsurizal mengobral 17 program kerja di hadapan rakyat. Dari 17 program tersebut beberapa di antaranya sudah dijalankan seperti penguatan swasembada pangan dengan menginstruksikan seluruh jajaran mulai OPD hingga Pemerintah Kampung (Pemkam) agar mengembangkan tanaman pangan seperti jagung, ubi, kangkung, cabe, dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, program swasembada pangan yang digembar-gemborkan itu tak lagi terdengar di telinga, bahkan hasil dari program tersebut juga tidak diketahui sejauh mana efektivitasnya terhadap perekonomian daerah dan masyarakat, serta apakah akan terus berkesinambungan atau hanya sebatas angek-angek taik ayam?.

Sempitnya ruang fiskal kerap menjadi dalih/alasan sulitnya pasangan Afni-Syamsurizal mewujudkan program di tengah masyarakat. Tak hanya yang berkaitan dengan peningkatan infrastruktur saja, melainkan juga terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hak para pegawai/pekerja, seperti penyaluran TPP, pembayaran gaji, hingga pembiayaan operasional kantor.

Dengan kondisi demikian, publik semakin yakin nantinya pasangan Afni-Syamsurizal tidak akan mampu untuk mewujudkan 17 program kerja yang pernah dijanjikan. Di sisi lain, publik juga akan menganggap kepemimpinan Afni-Syamsurizal tidak lebih baik dari pemimpin sebelumnya.

Menilik kondisi dan realita yang ada di Siak saat ini, masih banyak ditemukan ketimpangan sosial yang butuh perhatian serius dari Pemkab Siak. Seperti masih banyaknya keluarga miskin yang butuh rumah layak huni, warga pelosok kampung yang butuh penerangan listrik, petani yang butuh jaringan irigasi, pelaku UMKM yang butuh modal usaha, pedagang keliling yang butuh jalan mulus/aspal, dan lain sebagainya.

Fakta menarik lainnya yang menjadi atensi publik adalah, ditiadakannya acara festival Siak Bermadah oleh Bupati Afni Z pada tahun 2025 lalu. Sebelumnya acara festival Siak Bermadah rutin digelar pada setiap bulan Oktober sebagai hiburan rakyat dalam rangka memeriahkan moment Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Siak.

Ditiadakannya acara festival Siak Bermadah di masa awal kepemimpinan Afni-Syamsurizal itu mengisyaratkan seolah acara tersebut dianggap tidak penting. Padahal melalui kegiatan tersebut Siak bisa mempertunjukkan ragam budaya yang dimiliki.

Acara festival Siak Bermadah tidak hanya sebatas seremonial saja, melainkan sebuah ikonik untuk memperlihatkan jati diri Siak sebagai Negeri Melayu yang berbudaya dan agamis.

Mirisnya lagi, Bupati Afni yang kerap mengaku dirinya sebagai wartawan aktif itu terkesan seolah tidak faham dengan kondisi dan kebutuhan finansial para insan pers yang ada di Kabupaten Siak. Hal itu terlihat dari belum dimulainya kerjasama publikasi media antara Pemda dengan seluruh perusahaan pers yang ada di Siak. Sementara saat ini sudah memasuki bulan Maret 2026.

Berbeda dengan pola yang diterapkan oleh Pemkab Siak pada tahun-tahun sebelumnya, di mana orderan kerjasama publikasi dengan perusahaan media sudah dimulai/berjalan pada sekitar bulan Februari-Maret. Apakah tahun ini anggaran kerjasama publikasi media di Diskominfo Siak ditiadakan?.

Saking parahnya kondisi keuangan daerah di masa kepemimpinan Afni-Syamsurizal ini, hingga memasuki bulan Maret 2026 belum ada satupun kegiatan/proyek fisik OPD yang ditampilkan/dilelang di laman website Sistem Pengadaan Secara Eletronik (SPSE) Kabupaten Siak. Hanya satu kegiatan yang sudah ditampilkan yakni Penyusunan Standar Satuan Harga (SSH) pada Bagian Adminpem Setdakab Siak.

Tantangan besar lainnya yang harus dihadapi dan diperjuangkan oleh pasangan Afni-Syamsurizal adalah mencari anggaran untuk pelestarian cagar budaya yang ada di Kabupaten Siak. Upaya tersebut dianggap sangat penting mengingat kondisi sejumlah bangunan cagar budaya sudah ada yang mengalami kerusakan dan bahkan membahayakan.

Jika selama masa kepemimpinan Afni-Syamsurizal ini Kabupaten Siak tidak mengalami perubahan dan kemajuan (masih sama dengan sebelumnya), maka sudah barang tentu kesan yang timbul dari kepemimpinannya adalah ketidakmampuan berbuat untuk menuju dan menjadikan Siak menjadi lebih baik.

Seorang kepala daerah yang dipilih secara demokratis oleh rakyat memiliki tanggungjawab moril atas apa yang pernah dijanjikan. Program kerja yang merupakan bagian dari janji kampanye tidak bisa diabaikan/dilupakan begitu saja hanya dengan alasan keterbatasan anggaran atau sempitnya ruang fiskal.

Hingga hari ini, masyarakat masih menunggu dan berharap seluruh program kerja yang pernah dijanjikan oleh pasangan Afni-Syamsurizal bisa terwujud dalam periodesasi Lima tahun masa kepemimpinannya. 17 program kerja yang pernah dijanjikan itu akan diulas secara detail dan mendalam di kolom redaksi media Wartasiak.com pada tulisan selanjutnya.

Penulis: Atok
(Pimpinan Umum Media Wartasiak.com)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *