SIAK (WARTASIAK.COM) – Bagi generasi milenial tahun 2000-an mungkin tidak pernah mendengar suara alunan ketontong yang kerap mengiringi moment buka puasa dan kabar kematian di tengah masyarakat Siak Sri Indrapura. Namun bagi generasi tua era 1950-1990-an, tentunya sudah tidak asing lagi dengan suara alunan ketontong yang kerap terdengar dari masjid-masjid dan musholla.
Di masa Siak belum menjadi kabupaten, semua masjid dan musholla dilengkapi dengan alat informasi yang disebut ketontong atau kentongan. Alat tersebut berbentuk panjang dan memiliki rongga di dalamnya yang dibuat dari pohon/kayu. Khusus di masjid-masjid yang ada di wilayah Kecamatan Mempura, ketontong kebanyakan dibuat dari pohon/kayu Nangka atau kayu Cempedak.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, ketontong tidak lagi digunakan sebagai alat/sarana informasi (pemberitahuan, red). Bahkan saat ini sudah jarang ditemukan ketontong di masjid ataupun musholla. Sebagai pengganti ketontong, saat ini di setiap masjid disediakan bedug yang terbuat dari kulit hewan.
Alunan Ketontong Bervariasi Sesuai Moment dan Kondisi:
Dulu di Siak Sri Indrapura, pada saat tibanya bulan suci Ramadhan alunan ketontong berkumandang pada waktu maghrib saat tibanya waktu berbuka puasa. Selain itu, ketontong juga kerap dibunyikan/dipukul pada saat hari Jum’at sebagai isyarat bahwa waktu shalat Jum’at akan segera tiba.
Masa itu, sebagian besar masjid dan musholla yang ada di Siak Sri Indarapura belum dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Sehingga ketontong menjadi alat/sarana utama untuk menyampaikan pemberitahuan kepada masyarakat, terutama yang berkaitan dengan waktu shalat, berbuka puasa, gotong-royong, dan musibah kematian.
Adapun bunyi alunan/pukulan ketontong yang dikumandangkan dari masjid-masjid maupun musholla di Siak Sri Indrapura itu memiliki irama/bunyi yang berbeda-beda sesuai dengan moment dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Sebagaimana dikemukakan oleh tokoh budayawan Melayu Siak H Said Muzani SH.
“Saya masih ingat betul bunyi ketontong pada masa itu, kalau untuk pemberitahuan masuknya waktu berbuka puasa iramanya begini, kalau untuk pemberitahuan gotong-royong iramanya begini, dan kalau untuk pemberitahuan kematian agak sedikit panjang diiringi pukulan tung-tung-tung sebanyak Tiga kali,” papar H Said Muzani, Kamis (27/02/2025) siang, saat berbincang bersama Wartasiak.com sambil mengenangkan Siak tempo dulu.
Nyaring suara ketontong bisa terdengar hingga jarak sejauh 1-2 kilo meter. Bagi masyarakat Siak kala itu, alunan ketontong untuk masing-masing pemberitahuan sudah sangat hapal/faham. Terutama alunan ketontong yang dibunyikan pada saat ada warga setempat yang meninggal dunia.
“Alangkah baiknya kalau di Siak ini sesekali diakan/digelar festival ketontong Siak tempo dulu, biar generesai muda sekarang tau ragam variasi bunyi ketontong itu. Kalau sekarang bunyi pukulan bedug sudah hal biasa,” tutup H Said Muzani.
Saat ini di seluruh masjid maupun musholla di Siak sudah tidak ada lagi dilantunkan bunyi ketontong. Untuk pemberitahuan terkait hal-hal yang sifatnya umum, panitia masjid mengumumkannya lewat mic yang bisa terdengar hingga jarak puluhan kilo meter.
Selain di masjid-masjid dan musholla, ketontong juga disediakan oleh masyarakat Siak Sri Indrapura di setiap pos-pos ronda. Namun ketontong yang disediakan di pos ronda ukurannya lebih kecil dibanding ketontong di masjid.
Laporan: Atok








