SIAK (WARTASIAK.COM) – Rumah Sakit Umum Daerah Tengku Rafi’an (RSUD-TR) Siak, merupakan fasilitas kesehatan yang dibangun dan dikembangkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Siak. Keberadaan rumah sakit Siak itu harus bisa memberikan dampak positif dan kepuasan bagi seluruh masyarakat Siak yang membutuhkan pelayanan medis.
Sungguh ironi, jika keberadaan rumah sakit yang dibangun dengan uang rakyat itu harus terus-menerus menimbulkan polemik yang tak berkesudahan. Akibatnya, mutu pelayanan di rumah sakit akan semakin menurun dan mengecewakan pasien.
Polemik yang hari ini menjadi atensi publik adalah soal tersendatnya pembayaran uang kelangkaan profesi dokter spesialis yang sudah enam bulan belum disalurkan. Ditambah lagi adanya fasilitas alat kesehatan (Alkes) yang rusak dan tak kunjung diperbaiki.
Akibat tak terperhatikannya Alkes yang rusak di RSUD-TR Siak itu, saat ini banyak pasien yang harus dirujuk ke RS Pekanbaru. Kondisi ini tentunya akan menjadi catatan buruk yang bisa merusak citra RSUD-TR Siak sebagai RS penyandang predikat Akreditasi Paripurna.
Berdasarkan informasi yang diterima Wartasiak.com, Alkes yang saat ini rusak dan tak berfungsi di RSUD-TR Siak itu adalah rontgen. Padahal rontgen merupakan fasilitas utama keperluan tim medis untuk mendeteksi setiap penyakit yang diderita oleh pasien.
Keluhanan atas rusaknya alat rontgen RSUD-TR Siak itu disampaikan oleh Ucok Harahap, salah seorang warga Siak yang pada beberapa waktu lalu membawa keluarganya untuk berobat.
“Pada hari Kamis lalu, saya membawa keluarga untuk berobat ke RSUD-TR Siak. Tapi sayang, di RSUD-TR Siak keluarga kami tidak bisa mendapatkan layanan medis karena alat rontgen rusak. Akibatnya harus dirujuk ke RS Pekanbaru,” ujar Ucok Harahap, Senin (30/03/2026), saat berbincang bersama Wartasiak.com.
Dikatakannya juga, menurut informasi yang ia terima dari pihak RSUD-TR Siak, kerusakan alat rontgen tersebut sudah terjadi sejak sebulan yang lalu, namun anehnya hingga saat ini belum ada tindak lanjut untuk diperbaiki.
“Ini masalah serius yang harus disikapi secepatnya oleh bupati. Jangan hanya menyalahkan dokter-dokter saja, sementara alat untuk menangani pasien tidak diperhatikan. Kalau kondisi ini tidak segera ditangani, tentu akan membuat masyarakat kecewa saat datang ke RSUD Siak,” kata Ucok lagi.
Keluhan atas kondisi di RSUD-TR Siak itu tidak hanya dirasakan dan disampaikan oleh keluarga pasien saja, bahkan sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) yang bertugas di RSUD-TR Siak itu juga sempat menyampaikan keluhan atas semakin kecilnya uang jasa pelayanan BPJS yang diterima sejak beberapa bulan belakangan ini.
“Terlepas dari tunjangan kelangkaan profesi para dokter spesialis, kami juga merasakan ada yang aneh dalam beberapa bulan belakangan ini, yakni uang jasa pelayanan BPJS yang kami terima jauh berbeda dari sebelumnya,” ujar salah seorang Nakes RSUD-TR Siak yang enggan disebutkan namanya.
Dijelaskannya, uang jasa pelayanan BPJS merupakan insentif yang diterima oleh seluruh Nakes di rumah sakit sesuai jumlah pasien yang ditangani. Uang jasa BPJS itu tidak hanya diterima oleh para dokter saja, melainkan juga diterima oleh perawat, bidan, serta petugas layanan lainnya yang ada di rumah sakit.
“Menyelesaikan masalah RSUD harus dilihat secara menyeluruh dan terintegrasi, tidak bisa dilihat hanya dari kasus per kasus saja. Soal uang jasa pelayanan BPJS, kami selaku Nakes tau besaran yang mesti kami terima setiap bulan, karena disesuaikan dengan jumlah pasien yang kami tangani,” tutupnya.
Atas sejumlah polemik yang terjadi dan dirasakan di RSUD-TR Siak itu, banyak para dokter yang mengaku/berniat untuk mencari pekerjaan di tempat tugas yang lain. Sebagaimana dikemukakan oleh dokter spesialis dermato venerologi Dr. dr. Dina Devi.
“Sekarang banyak dokter-dokter yang lebih memilih fokus kerja di swasta. Ada yang sebelumnya ingin mengabdikan diri kerja di RSUD Siak, tapi melihat kondisi yang seperti ini, mereka lebih memilih kerja di swasta,” sebut dr. Dina, kepada Wartasiak.com.
“Dampak dari ini semua akan membuat pelayanan di RSUD tidak maksimal, dokter tetap melayani tapi jadi tidak maksimal dan prima. Satu contoh imbas dari rusaknya alat rontgen yang mengakibatkan dokter tidak bisa mendeteksi keluhan pasien, dan solusinya harus dirujuk ke Pekanbaru,” sambungnya.
Keberadaan para dokter di rumah sakit sangat menentukan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Jika para dokter sudah merasa tidak nyaman akibat banyaknya persoalan, tentu akan berdampak fatal pada sektor pelayanan medis.
“Jika Pemda Siak memang sudah tidak sanggup lagi untuk memenuhi hak-hak kami selaku dokter spesialis ASN, kami minta izin untuk dipermudah mengurus pengajuan pindah tugas ke tempat lain. Tadi juga sudah kami sampaikan pada saat hearing bersama DPRD Siak,” tutup dokter spesialis itu.
Laporan: Atok







