SIAK (WARTASIAK.COM) – Tokoh Budayawan Siak H Said Muzani SH, menanggapi adanya tulisan di media massa online yang menyebut Sultan Siak meninggal dunia di Tanjung Pinang Pulau Bintan. Tulisan yang sempat menarik perhatian publik itu terkesan ngawur dan tanpa referensi yang jelas.
Dalam artikel yang ditulis di salah satu media massa online itu disebutkan bahwa Sultan Siak menetap di Jakarta, dan kemudian pindah ke Tanjung Pinang di Pulau Bintan, lalu meninggal dunia di sana. Benarkah demikian?.
Menanggapi isi tulisan yang menyenggol nama Sultan Siak itu, Tokoh Budayawan Siak H Said Muzani SH dengan tegas mengatakan bahwasanya informasi yang ditulis itu salah kaprah dan jauh dari fakta sejarah yang sebenarnya.
“Tidak ada Sultan Siak yang meninggal dunia di Tanjung Pinang ataupun di Bintan. Sultan Siak ke-12 yakni Sultan Syarif Kasim II meninggal dunia di RS Caltex Rumbai, kemudian jenazahnya dibawa pulang ke tanah kelahirannya Siak Sri Indrapura dan dimakamkan di komplek Masjid Raya Syahabuddin Kota Siak,” terang H Said Muzani, Jum’at (03/10/2025) siang.
Dijelaskan Tokoh Budayawan Siak itu, dalam catatan sejarah Kesultanan Siak terdapat 12 raja/sultan yang pernah memerintah di Kerajaan Siak. Dari 12 Sultan Siak itu ada yang makamnya di Pekanbaru dan ada yang di Siak.
“Masa Kesultanan Siak berlangsung selama sekitar 200 tahun yakni sejak 1723 hingga 1945, adapun para Sultan yang memerintah Kerajaan Siak itu ada yang makamnya di Pekanbaru dan ada juga yang di Siak, tidak ada satupun yang wafat atau dimakamkan di Pulau Bintan,” lanjut H Said Muzani.
Dalam sejarah Kesultanan Siak, sambung H Said Muzani, hanya ada Satu Sultan Siak yang wafat dan dimakamkan di luar wilayah yakni Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffarsyah yang merupakan sultan ke-6 Kerajaan Siak. Beliau wafat dan dimakamkan di Kampung Che Lijah Dungun Trengganu Malaysia.
“Yang wafat dan dimakamkan di luar wilayah Siak Sri Indrapura hanya Sultan Yahya (sultan ke-6), beliau dimakamkan di Trengganu Malaysia. Sekali lagi tidak ada Sultan Siak yang wafat dan dimakamkan di Bintan,” tutup H Said Muzani.
Hal senada juga disampaikan oleh tokoh muda Siak Wan Hamzah, dirinya menegaskan setiap tulisan di media massa yang berkaitan dengan sejarah Kesultanan Siak harus didasari dengan rujukan-rujukan yang jelas sumbernya, baik melalui buku sejarah Kesultanan Siak ataupun dari narasumber yang benar-benar mengenal/mengetahui sejarah Kerajaan Siak.
“Bagi yang menulis sejarah/riwayat Kesultanan Siak mesti belajar lebih banyak terlebih dahulu tentang sejarah Kesultanan Siak, agar apa yang ditulis tidak ngawur dan tidak merubah-rubah catatan sejarah,” tegas Wan Hamzah.
Lebih lanjut Wan Hamzah mengatakan, bagi mereka yang kurang faham dengan sejarah Kesultanan Siak, jangan membuat berita yang terkesan halusinasi.
“Orang-orang yang tidak faham jangan membuat berita halu, sebaiknya bertanya kepada yang faham tentang sejarah Kesultanan Siak, supaya informasi yang disampaikan tidak melenceng dari sejarah yang sebenarnya, karena tulisan di berita itu dibaca oleh banyak orang, dan supaya sejarah itu lurus,” tutupnya.
Laporan: Atok







