Catatan Atok: Defisit yang Menjepit

Siak742 Dilihat

POJOK (WARTASIAK.COM) – Defisit anggaran yang melanda keuangan daerah Kabupaten Siak benar-benar telah membuat pertumbuhan ekonomi dan sektor pembangunan terseok-seok. Siak yang dulunya dikenal sebagai kabupaten kaya raya di Riau, kini tak lagi bisa memamerkan kekayaannya di hadapan mata publik. Justeru yang terlihat dan terdengar saat ini adalah Siak nyaris terpuruk akibat terlilit utang.

Utang yang dipikul oleh Kabupaten Siak itu tentunya menjadi beban tanggungan bagi kepala daerah untuk menuntaskannya. Tak tanggung-tanggung, utang yang melilit pinggang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak itu konon dikabarkan mencapai lebih dari Rp300 miliar. Mampukah utang itu terlunasi di 2025 ini?.

Akibat besarnya utang yang ditanggung oleh Pemkab Siak itu, tahun ini Pemkab Siak nyaris tidak bisa berbuat apa-apa, jangankan membangun infrastruktur yang mewah nan megah, untuk memperbaiki kerusakan jalan dan membayar gaji honorer saja seolah Pemkab Siak kewalahan.

Buruknya kondisi fiskal yang dialami Pemkab Siak itu bukan tanpa sebab dan musabab. Besarnya pengeluaran belanja tahun 2024 oleh masing-masing OPD merupakan salah satu biang kerok penyebab terjadinya defisit dan tumpukan utang.

Sepanjang tahun 2025 ini, Pemkab Siak belum bisa secara maksimal memenuhi keinginan dan harapan masyarakat dalam hal pembangunan. Meski demikian, kepala daerah selaku pemegang tampuk pimpinan tertinggi sudah menerapkan sejumlah strategi agar apa yang diharapkan oleh masyarakat itu bisa terwujud di tahun-tahun mendatang. Jika tidak 2026 kemungkinan 2027, jika tidak 2027 kemungkinan 2028?.

Pemkab Siak optimis, defisit yang menjepit ini akan bisa teratasi bilamana seluruh OPD yang ada berhati-hati dan cermat dalam menggunakan anggaran. Salah satu alternatif yang mesti diterapkan adalah dengan mengurangi belanja yang tidak penting, termasuk perjalanan dinas luar daerah yang kerap dilakukan oleh pejabat papan atas.

Secara umum, defisit kerap diartikan pada situasi di mana pengeluaran lebih besar daripada pendapatan atau dalam istilah lain disebut tekor. Defisit bisa menjadi masalah serius jika tidak dikelola dengan baik. Namun, defisit juga bisa digunakan sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan tepat.

Sebagai langkah agar bisa keluar dari jeratan defisit ini, kepala daerah melalui Sekretaris Daerah (Sekda)nya harus benar-benar serius mencermati/memonitor apa yang dilakukan oleh jajarannya. Jangan sampai hal yang sama terjadi lagi di tahun-tahun mendatang akibat belanja yang ugal-ugalan.

Tahun 2025 akan segera berakhir. Artinya, masyarakat menaruh harapan besar di tahun 2026 semoga tidak terjadi lagi defisit anggaran. Salah satu dampak buruk defisit yang dikhawatirkan oleh masyarakat adalah tidak berjalannya program kerja pemerintah yang pernah dijanjikan dan direncanakan.

Pemkab Siak di bawah kepemimpinan Afni-Syamsurizal, memiliki belasan program kerja unggulan yang sudah dinanti-nanti oleh masyarakat. Program tersebut tidak akan bisa terealisasi jika pola pengeluaran/belanja tidak diatur secara efektif dan terukur.

Salah satu program kerja unggulan Pemkab Siak yang dinanti-nanti masyarakat adalah Pembangunan Infrastruktur Merata Sampai ke Kampung/Desa, serta Peningkatan Kesejahteraan Guru dan Tendik Pada Semua Jenis Pendidikan Umum dan Keagamaan.

Untuk mewujudkan impian itu, Pemkab Siak tidak bisa hanya menghandalkan dana daerah (APBD, red) saja. Kita semua tau, kekuatan APBD Siak saat ini hanya berkisar di angka Rp2 Triliunan, di mana hampir separuhnya sudah terkunci untuk pembiayaan/pembayaran kebutuhan pegawai/ASN.

Dengan demikian, perlu adanya terobosan dan keberanian dari kepala daerah untuk mengambil suatu kebijakan agar defisit anggaran tidak terulang.

Penulis: Atok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *