Penulis: H. Irving
WARTASIAK.COM – Malam itu sekira pukul 20:00 WIB, saya bersama sejumlah anak muda yang tergabung dalam komunitas “Brembang Teduh” berdiskusi tentang dunia politik dan pentingnya peran pemuda dalam mengawal demokrasi. Di tengah bincangan itu angin berhembus begitu kencang. Berselang beberapa jam kemudian, hujan pun turun dengan cukup deras
Agar tidak terkena tempias percikan air hujan, kamipun beranjak dari tempat duduk dan berdiri di salah satu lorong yang ada di dalam ruangan itu. Tanpa terasa, tiba-tiba waktu menunjukkan pukul 00:00 WIB. Meskipun sudah memasuki tengah malam, namun suasana diskusi tetap asyik dan semakin menarik, karena malam itu kami ditemani rintik hujan dan gemerlap kembang api menyambut datangnya tahun 2026.
Rona wajah anak-anak muda yang ada di dalam ruangan itu terlihat begitu gembira menyambut datangnya tahun 2026. Ada di antara mereka yang bersorak-sorai dan ada juga di antaranya yang menengadahkan tangan sembari berdoa ke hadirat tuhan. Mereka semua saling bertatapan dengan ucapan yang sama “Selamat Tahun Baru 2026”.
Diskusi kami malam itu mengantarkan perjalanan waktu dari 2025 menuju 2026. Di hadapan anak-anak muda itu, saya menyampaikan pesan penting agar mereka semua tetap dan terus bersemangat dalam menapaki hari-hari di tahun 2026. Suka-duka yang telah diewati di 2025 harus menjadi pelajaran dan evaluasi diri agar hari esok bisa menjadi lebih baik.
“Kalian semua harus bisa mengambil pelajaran dari tahun lalu untuk melangkah di tahun ini. Teruslah berkarya dan berjuang dalam menjaga nalar bangsa, jangan takut menyampaikan kritik terhadap pemerintah,” begitu pesan saya kepada anak-anak muda itu.
Di sela perbincangan bersama anak-anak muda itu, saya juga menyinggung tentang pentingnya peran pemuda dalam mengawal demokrasi di republik ini. Karena anak-anak muda yang hadir malam itu adalah mereka para insan pers yang bertugas di Kabupaten Siak, maka saya menyampaikan hal-hal krusial yang saat ini terjadi di Kabupaten Siak.
Meskipun saya lahir dan besar di Kota Pekanbaru, namun bagi saya “Kabupaten Siak” adalah bagian dari jiwa-raga yang tak bisa terpisahkan. Selama lebih dari 24 tahun saya bertugas/mengabdikan diri sebagai ASN di Kabupaten Siak.
Topik utama yang kami diskusikan pada malam tahun baru 2026 itu tidak terlepas dari persoalan sempitnya ruang fiskal yang hari ini dialami oleh Pemda Siak. Itu semua tentunya harus menjadi catatan penting bagi pemangku kebijakan/kewenangan di daerah untuk mencarikan solusi.
Sebagai seorang mantan ASN yang puluhan tahun bertugas di Siak, saya memahami betul apa yang dirasakan oleh rekan-rekan ASN di Siak saat ini. Banyak dari mereka yang hari ini menangis tanpa air mata.
Saya memilih pensiun muda dari ASN di tahun 2024 lalu. Tahun di mana orang-orang menyebutnya sebagai tahun politik. Bagi saya, meninggalkan dunia birokrasi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan dalam berkarir, melainkan awal dari sebuah perjalanan baru sebagai seorang politisi.
Sebagai seorang politisi yang berlayar dan berlabuh bersama perahu moncong putih, saya tetap ingin terus berbuat dan berkarya demi cita-cita luhur bangsa. Bergelut di dunia politik harus memegang teguh konsep dan prinsip yang telah diajarkan oleh para tokoh/pendiri bangsa, sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.
Menjelang akhir perbincangan kami di malam tahun baru 2026 itu, ada beberapa anak muda yang bertanya tentang bagaimana menyikapi situasi dan kondisi politik di Kabupaten Siak. Tentunya pertanyaan itu sangat menarik untuk saya jawab dan jelaskan, sebab saya merupakan orang yang terlibat dalam kancah politik di Siak pada tahun 2024 lalu.
Seorang politisi sejati harus memiliki jiwa petarung yang tangguh. Sebab setiap pergulatan politik akan menyisakan konsekwensi kalah dan menang. Bagi saya, kekalahan di Pilkada Siak 2024 lalu bukanlah hal yang harus diratapi.
Dalam dunia politik juga tidak terlepas dari yang namanya kritik. Setiap individu yang berani terjun ke dunia politik harus bisa dan siap menerima kritikan yang datang menghampiri. Politik itu dinamis, namun harus dibumbui dengan kritik.







